Bulan Api, Bulan Perlawanan, Bulan Pemberontakan

*http://edumuslim.org/index.php?option=article&article_rf=131*

Bulan Api, Bulan Perlawanan, Bulan Pemberontakan01-09-2008 15:37:28 WIB Oleh
: *Akmal Syafril*
assalaamu’alaikum wr. wb.

Konon, kata “ramadhan” aslinya terambil dari kata yang memiliki makna
seputar “membakar”. Ada yang merujuk pada kondisi iklim jazirah Arab yang
panas membara sepanjang tahun, dan konon, memuncak pada bulan Ramadhan.
Saya pribadi kurang puas dengan penjelasan (atau penafsiran) ini, karena
pada kenyataannya sistem kalender Qomariyah tidak konsisten terhadap musim.
Jadi untuk Indonesia misalnya, ada kalanya Ramadhan jatuh di musim
penghujan, dan beberapa tahun kemudian jatuh di musim kemarau.

Ada yang bilang bahwa bulan suci ini diberi nama “Ramadhan” karena pada
bulan ini setiap Muslim berusaha menyucikan dirinya masing-masing dan
‘membakar’ dosa-dosanya sampai habis (kalau bisa). Jadi, sementara sumber
api yang satu ditutup (yaitu neraka), sumber api lainnya justru dinyalakan
di bumi. Bedanya, ‘api’ yang di bumi ini sangat dinanti-nanti
kedatangannya, karena yang dibakar bukan manusianya, melainkan dosa-dosanya.

Ketika saya mulai belajar melaksanakan shaum dulu (kira-kira pertengahan
tahun 80-an), Ramadhan memang terasa benar-benar ‘panas’. Selain karena
waktu itu sedang musim kemarau, mungkin juga karena baru belajar
mendisiplinkan diri untuk tidak makan dan minum seharian. Yah, namanya juga
anak kecil yang sedang belajar.

Di sisi lain, memang muncul rasa ‘terbakar’ di dalam hati ketika melihat
kakak-kakak saya ber-shaum. Bukan main jengkelnya hati ketika Mama memberi
pesan kepada saya untuk tidak memaksakan diri dalam shaum. Kalau tidak kuat
sampai Maghrib, sampai Zhuhur pun tak mengapa. Mungkin memang watak saya
yang pada dasarnya temperamental, tapi pemberian excuse semacam ini justru
terasa sangat menghinakan. Pada prinsipnya dulu saya (sebagaimana anak
bungsu lainnya, saya rasa) hanya tidak sudi kalah dari kakak-kakak saya.
Karena itu, shaum selalu diwarnai dengan aroma kompetisi. Memang beberapa
kali saya dengan sangat terpaksa harus berbuka di siang hari, atau kadang
bisa dipaksakan sampai jam 2-3 sore. Yang jelas, saya akan cemberut
seharian kalau tidak dibangunkan untuk sahur.

Berdasarkan pengalaman, jika Al-Qur’an memberi nama pada sesuatu, maka ia
akan memiliki hikmah yang mendalam dan berlipat ganda. Karena “ramadhan”
adalah nama yang tercantum di dalam Al-Qur’an (tepatnya di Q.S. Al-Baqarah
[2] : 185), maka sudah sewajarnya kita memberikan perhatian lebih padanya.
Saya rasa ada banyak rahasia dalam nama yang ‘berapi-api’ ini.

Akan tetapi ‘Ramadhan masa kini’ sangat jauh dari kesan ‘berapi-api’. Pekan
lalu saya terkaget-kaget ketika berangkat pagi-pagi dari Bogor dan sampai ke
Semanggi hanya dalam waktu sejam dengan kendaraan umum. Biasanya saya harus
menyediakan waktu satu setengah sampai dua jam karena macet, namun pagi itu
lalu lintas lancar bukan main. Jakarta yang tidak macet tentulah kabar
baik, namun juga mengundang banyak pertanyaan. Mengapa jalanan masih sepi?
Apakah orang-orang tidak berangkat kerja?

Ternyata, jam kerja memang berubah drastis di bulan Ramadhan. Banyak orang
merasa berhak untuk datang lebih siang di bulan ini dengan alasan tidur lagi
setelah sahur. Sudah terlambat ke kantor, mereka masih berani pula minta
pulang lebih cepat, dengan alasan ingin berbuka di rumah. Orang yang tidak
harus keluar rumah memilih santai-santai di rumah, kalau perlu tidur
seharian. Semuanya dengan sigap menggunakan tameng hadits “Tidurnya orang
yang ber-shaum adalah ibadah” tanpa pernah mengecek ke-shahih-annya.

*Ramadhan, kini, jauh sekali dari ‘api’.*

Selemah-lemah dan sebodoh-bodohnya manusia, ketika diguyur bensin dan
disulut dengan api pastilah tidak akan diam. Ia akan berusaha sekuat tenaga
untuk menyelamatkan dirinya dari jilatan api. Secara refleks seluruh tubuh
bergerak untuk memadamkan api ; tangannya mengibas-ngibas, kakinya berlari
kesana-kemari, matanya mencari-cari sarana untuk memadamkan api, dan
sisa-sisa suaranya dipergunakan untuk meminta tolong. Jangankan dibakar
dengan api, disundut rokok pun akan menghasilkan gerak refleks yang sangat
berbahaya jika orangnya terlatih. Demikianlah reaksi umum manusia terhadap
api.

Apa yang terjadi jika ‘api’ itu dibiarkan menyala sebulan penuh? Reaksi
paling wajar tentu bukan duduk diam atau ngaso di rumah. Bukan pula
malas-malasan berangkat ke sekolah, kampus atau kantor. Manusia yang
‘terbakar’ pastilah bergerak kesana-kemari bagai kalap. Gerakannya jauh
lebih cepat dari normal, dan ia menghendaki suatu perubahan supercepat.
Orang yang sedang terbakar tidak bisa disuruh ‘bersabar’ menunggu. Ia butuh
progres sesegera mungkin. Ia haus akan kabar baik dan akan berbuat apa pun
demi mencapai tujuannya, yaitu selamat.

Jalan-jalan yang lengang, perkantoran yang sepi, suasana kerja yang loyo,
kegiatan belajar-mengajar yang sekedar menunggu waktu pulang ; semuanya
begitu jauh dari makna Ramadhan yang sebenarnya. Ramadhan adalah ‘bulan
api’ ; bulan di mana setiap Muslim harusnya merasa ‘terbakar’. Seharusnya
tidak ada orang yang bermalas-malasan dan tak punya target di bulan yang
‘serba panas’ ini. Rasulullah saw. dan para sahabatnya mencetak prestasi
yang sangat besar di setiap bulan Ramadhan, bahkan kinerjanya berkali-kali
lipat dari biasanya. ‘Panasnya’ Ramadhan sudah terasa sejak bulan Rajab.

Ini adalah bulan Ramadhan. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai! Saatnya
melakukan perlawanan terhadap rasa malas. Inilah bulan terbaik untuk sebuah
pemberontakan terhadap keterpurukan!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *